Berita Terbaru

Wisatawan Bisa Jadi Raja-Ratu di Istana Maimun

 
 
 
Wisatawan bisa menjadi raja dan ratu sehari di Istana Maimun, Jalan Brigjen Katamso, Medan, dengan mengenakan pakaian adat Melayu, layaknya seorang raja Melayu. 
 
Ya, di Istana Maimun disediakan layanan penyewaan pakaian adat Melayu yang bisa digunakan para pengunjung, seperti baju teluk belanga plus kain songket untuk pria dan baju kurung plus rok panjang, lengkap dengan sunting bermotif emas yang dikenakan di kepala untuk wanita.
 
Tersedia berbagai warna pilihan yang bisa digunakan para pengunjung diantaranya merah, kuning, biru dan pink.
 
Pakaian adat Melayu seperti itu merupakan pakaian yang kerap digunakan Kesultanan Deli dan kini menjadi sarana untuk menarik para wisatawan berkunjung ke Istana Maimun. 
 
Tak pelak lagi, para pengunjung Istana Maimun antusias menggunakan pakaian adat Melayu tersebut saat berkunjung ke Istana Maimun. 
 
"Alhamdulillah, bisa jadi raja dan ratu sehari bersama istri di Istana Maimun. Saya sebagai orang Melayu, bangga bisa menggunakan pakaian raja seperti teluk belanga ini," ungkap pengunjung dari Riau, Ahsan Rahmat beberapa waktu lalu.
 
Selain bisa menyewa pakaian adat Melayu, para pengunjung Istana Maimun juga bisa menikmati alunan musik Melayu yang dimainkan secara langsung di Istana Maimun. Selain itu, para pengunjung juga bisa melihat secara langsung sejumlah peninggalan sejarah kesultanan Deli di Istana Maimun. 
 
Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa melihat Meriam Puntung. Kisah Meriam Puntung cukup melegenda bagi warga Kota Medan. Karenanya meriam yang berada di dalam komplek Istana Maimun tersebut kerap diziarahi oleh pengunjung yang datang ke istana kebanggaan warga Kota Medan ini.
 
Diketahui, Meriam Puntung merupakan meriam yang digunakan saat masa peperangan antara Kerajaan Haru, yang memerintah sekitar tahun 1594 masehi melawan Kesultanan Aceh.
 
Karena terlalu sering digunakan, ditembakkan secara terus menerus, meriam tersebut panas dan terbelah menjadi dua.
 
Pecahannya terpental ke dua tempat yang berbeda. Pecahan pertama terpental ke Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Tanah Karo sekarang. Sementara itu, ujung yang lainnya kini berada di bangunan yang berada di halaman Istana Maimun. 
 
Sampai sekarang, kedua pecahan meriam itu masih bisa ditemui di kedua tempat itu dan menjadi benda yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Karena banyak berkembang cerita mistis mengenai keberadaan meriam tersebut. (Tim Media Dinas Pariwisata Medan)
 

Keramah-tamahan dan senyum terbaik dalam menyambut wisatawan berharap dapat membuat anda selalu mengingat kota Medan yang kaya akan budaya.

--  Drs. Agus Suriyono --

 Kepala DISPAR kota Medan

Sosial Media

Medan Virtual