Berita Terbaru

Melihat Sosok Fon Prawira, Cucu Tjong A Fie Fon Prawira Pernah Kembangkan Budaya Peranakan di Medan

Walau ditentang oleh sebagian masyarakat etnis Tionghoa di Kota Medan, namun Fon Prawira, salah seorang cucu Tjong A Fie, pengusaha asal Tiongkok tetap komit untuk mengembangkan budaya peranakan, budaya yang tercipta dari perpaduan etnis Tionghoa dan pribumi. 

 

Budaya peranakan yang dikembangkannya merupakan hasil budaya peranakan yang telah dikembangkan oleh kakeknya, Tjong A Fie sejak 1895 lalu. Di saat itu, Tjong A Fie menikahi wanita peranakan Tiongkok dan Melayu asal Binjai, Lim Koei Yap.

 

 Tjong A Fie bukanlah satu-satunya warga pendatang asal Tiongkok  yang menikahi wanita pribumi dan peranakan pribumi. Dari pernikahan tersebutlah menghasilkan dua budaya yang berbeda dan menghasilkan budaya baru, budaya peranakan.

 “Budaya peranakan menghasilkan berbagai budaya baru seperti busana, aksesoris, kuliner, nyanyian, syair,  racikan obat dan lainnya. Ini merupakan warisan yang harus dikembangkan, jangan dibuang begitu saja,”paparnya seperti dikutip dari Koran Sindo Medan di rumah peninggalan Tjong A Fie, Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan (4/10).

 Fon Prawira sendiri mengikuti jejak kakeknya, Tjong A Fie dengan menikahi wanita pribumi, Nasti Aliani.

 “Untuk melanjutkan upaya kakek saya mengembangkan budaya peranakan, saya pun menikah dengan wanita pribumi. Saat ini, saya bersama istri saya, Nasti Aliani berupaya mengembangkan budaya peranakan dari segi busana,” ujarnya.

 Fon Prawira menambahkan busana Kebaya Nyonya atau Kebaya Encim merupakan sebutan untuk busana yang sering digunakan oleh para wanita yang menikah dengan masyarakat pendatang asal Tiongkok pada masa itu.

 “Istri Tjong A Fie sendiri sering menggunakan Kebaya Nyonya pada saat itu. Walau dia istri seorang pendatang asal Tiongkok, namun dia lebih memilih untuk menggunakan Kebaya Nyonya ketimbang busana asli asal Tiongkok,” paparnya sambil menunjuk foto kenangan istri Tjong A Fie menggunakan Kebaya Nyonya.

 Perpaduan antara pakaian kebaya dan busana Tiongkok dan corak bunga menjadi ciri khas Kebaya Nyonya tersebut. Kebaya Nyonya sendiri memiliki motif yang beragam.

“Saat ini, saya bersama istri berupaya membangkitkan gairah Budaya Peranakan melalui Kebaya Nyonya ini. Kami menjual Kebaya Nyonya ini mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta,” paparnya.


 Namun sayangnya, Fon Prawira mengaku tidak semua etnis Tionghoa di Kota Medan mengklaim Budaya Peranakan merupakan bagian dari Budaya Tionghoa. Hal itu pulalah yang menghambat upayanya dalam mengembangkan Budaya Peranakan di Kota Medan.

“Padahal, Kota Medan merupakan salah satu kota pelopor Budaya Peranakan di Indonesia. Namun sayangnya, tidak sedikit masyarakat etnis Tionghoa di Kota Medan tidak menganggap Budaya Peranakan ini merupakan bagian dari Budaya Tionghoa. Terlebih lagi para orang tua etnis Tionghoa, mereka sangat menolak budaya peranakan ini,” ujarnya.

 Fon Prawira menambahkan di Singapura sendiri, Budaya Peranakan sudah dianggap sebagai salah satu budaya di negara berlambang Kepala Singa tersebut. “Namun di Indonesia, Budaya Peranakan masih belum dianggap,” paparnya.

 Menurutnya, Budaya Peranakan harus dikembangkan. Sebab, suka tidak suka, itu sudah terjadi. Sekalipun itu merupakan campuran budaya dari Tiongkok dan Medan, namun hasil budayanya patut dikembangkan. Karena itu merupakan salah satu bukti dari kejayaan bangsa yang dikembangkan oleh masyarakat pendatang asal Tiongkok yang menikahi wanita pribumi.

 “Melalui masyarakat multikultur inilah, mari kita angkat derajat bangsa. Karena ini merupakan salah satu aset bangsa. Alangkah sayangnya, bila aset bangsa tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya. 

Walau kini Fon Prawira telah tiada, tapi upayanya untuk mengembangkan budaya peranakan di Kota Medan akan terus diingat. (Tim Media Dinas Pariwisata)

Keramah-tamahan dan senyum terbaik dalam menyambut wisatawan berharap dapat membuat anda selalu mengingat kota Medan yang kaya akan budaya.

--  Drs. Agus Suriyono --

 Kepala DISPAR kota Medan

Sosial Media

Medan Virtual