Berita Terbaru

Berburu Barang Antik, “Main” ke Medan

Sebagai kota metropolitan, Kota Medan tidak hanya dikenal sebagai kota kuliner dan memiliki sejumlah destinasi wisata kota, namun juga memiliki sejumlah toko antik yang menjual berbagai jenis barang antik yang menarik wisatawan berkunjung ke Kota Medan.

Bagi pecinta barang antik, harga tidak menjadi persoalan. Soalnya, tidak ada patokan harga yang menentukan kwalitas barang antik tersebut. Tidak heran bila harga suatu barang antik bisa mencapai ratusan dan bahkan milyaran rupiah.

 

Sapriadi, Pemiliki toko barang antik, Dinasty Art Gallery, Jalan Merak Jingga, Medan mengungkapkan kategori suatu barang dikatakan sebagai barang antik apabila sudah berusia minimal seratus tahun. Sedangkan barang berusia dibawah seratus tahun, dikenal sebagai barang setengah tua bagi kalangan pedagang barang antik.

Barang antik yang berusia ratusan tahun tidak memiliki batasan harga.

Sapriadi menjelaskan pedagang barang antik bebas membandrol barang antik tersebut. Setelah melalui proses tawar menawar, barulah diketahui harga barang antik tersebut.

“Disitulah seni menjual barang antik tersebut. Kita bebas membuka harganya. Soalnya, tidak ada patokan harga dalam menjual barang antik ini. Harga terakhir, setelah proses tawar menawar, segitulah harganya,” paparnya seperti dikutip dari Koran Sindo Medan (3/10).

Seperti produk furniture, Sapriadi membandrol produk furniture  yang masih tergolong setengah tua mulai dari Rp 2 jutaan hingga Rp 12 jutaan.

“Barang mebel tertua yang ada disini masih berusia 74 tahun seperti lemari, tempat tidur dan lainnya. Umumnya, barang-barang mebel yang saya jual tahun buatan 1945 an seharga Rp 12 jutaan. Sedangkan yang termurah sekitar Rp 2 jutaan. Itu buatan tahun 1960,” paparnya.

Begitu juga dengan harga piring antik asal Dinasti Ming. Sapriadi menuturkan harga sebuah piring antik tersebut umumnya dibandrol seharga Rp 17 juta hingga Rp 20 jutaan.

“Piring antik asal Eropa juga dibandrol seharga piring antik asal China. Terkadang bisa juga kita naikkan harganya. Tergantung dari minat calon konsumen itu sendiri. Itulah saya katakana tadi, tidak ada patokan harga resmi dari barang antik tersebut,” paparnya.

Selain itu, terdapat juga piring antik yang hanya dibandrol ratusan ribu Rupiah. Hal itu disebabkan oleh piring antik tersebut jarang dicari konsumen. Itulah yang membuat harganya jatuh.

“Walau terkadang usianya sudah tua, namun jarang dicari orang, maka, harga jualnya bisa jatuh. Seperti piring antik asal China, ada juga yang hanya dijual seharga Rp 300 ribu,” ucap pria yang akrab disapa Fredy itu.   

Selain menjual barang-barang furniture tua dan piring antik, Sapriadi juga menjual koin antik seperti koin asal Spanyol. Sapriadi mengungkapkan Dinasty Art Gallery juga menjual koin tua diantaranya Korolus, Bola Dua, 1 Golden, 2 Golden, 2.5 Golden dan lainnya. Harga koin antik umumnya laku dijual seharga Rp 1.5 juta.

Selain itu, Sapriadi menambahkan di kalangan pedagang barang antik, belum ada ilmu yang pasti dalam menentukan usia barang antik tersebut. Usia barang antik hanya diketahui berdasarkan pengalaman saja.

“Belum ada ilmunya itu. Saya sendiri mengetahui usia barang antik hanya berdasarkan pengalaman saja. Sebab, semakin lama kita berdagang barang antik, maka semakin banyak ilmu yang bisa kita dapat dalam menentukan usia barang antik tersebut,” jelasnya.     

Seperti dalam menentukan usia piring antik asal China. Sapriadi mengungkapkan tidak ada corak khusus yang menandakan usia piring antik tersebut. Namun sepengetahuannya, piring antik asal China yang diperdagangkan berasal dari Dinasti Ming yang berusia lebih dari seratus tahun. Sedangkan piring antik asal Eropa biasanya berusia dua ratus tahunan.

Dari sekian banyak barang antik yang dijual di Dinasty  Art Gallery, Sapriadi mengungkapkan konsumen lebih meminati barang antik jenis furniture. Selain memiliki nilai seni yang tinggi, harga jual furniture juga tidak terlalu tinggi.

“Umumnya orang cari furniture tua. Mungkin karena bentuk minimalis klasik itu yang membuat banyak orang yang tertarik. Kwalitas barang umumnya masih bagus, kalau dipersentasekan sekitar 70% lah. Sebagian, harus kita perbaiki dahulu agar terlihat lebih bagus. Barang-barangnya banyak kami supply  dari Jawa,” ungkapnya sembari menunjukkan lemari tua tiga pintu asal Kuala Simpang, tahun pembuatan 1945 yang dibandrolnya seharga Rp 12 juta.

Sapriadi menambahkan walau berada di zaman teknologi canggih, peminat barang antik di Kota Medan dan sekitarnya masih banyak. Terbukti, setiap hari ada saja konsumen yang datang ke Dynasty Art Gallery.

“Walau tidak semua konsumen yang datang kemari langsung membeli barang, namun setidaknya setiap hari ada saja yang datang kemari. Tidak hanya pembeli, ada juga orang yang datang kemari untuk menjual barang antik miliknya. Jumlah pembeli dan orang yang akan menjual barangnya hampir sama banyaknya. Itu membuktikan bahwa peminat barang antik di Kota Medan masih banyak,” ujarnya.

Hal itu pulalah yang menjadi alasan Sapriadi bertahan memilih bisnis tersebut. Sejak tahun 2000, Sapriadi telah merintis bisnis yang terbilang unik tersebut.

“Sudah 14 tahun lah saya berdagang barang antik. Alasan saya bertahan menjadi pedagang barang antik karena  saya suka barang-barang lama. Selain itu untungnya juga lebih memuaskan, karena gak ada batasan harga, suka-suka hati kita buka harganya, kira-kira cocok di hati pembeli, pasti harga berapa saja yang kita tawarkan diterima pembeli tersebut,” paparnya sembari tersenyum.

Terlebih lagi barang antik yang sudah memiliki sertifikat. Sapriadi mengungkapkan barang yang antik sudah memiliki sertifkat akan bernilai sangat tinggi. Bisa mencapai ratusan juta hingga milyaran Rupiah. Pasalnya, barang antik yang sudah memiliki sertifkat akan diakui dan laku dijual di seluruh dunia.

Umumnya, barang antik yang memiliki sertifikat merupakan barang antik yang benar-benar memiliki nilai sejarah seperti barang-barang peninggalan kerajaan dan lainnya.

“Sertifikat barang antik hanya diperuntukkan barang antik berharga ratusan hingga milyaran Rupiah. Seperti barang-barang antik dari Borobudur, kerajaan yang memiliki sejarah yang resmi dan lainnya, serta barang-barang antik  yang memiliki kelas. Di Indonesia, sertifikat tersebut dikeluarkan oleh sebuah badan usaha di kawasan Candi Borobudur, namun saya lupa namanya. Sedangkan untuk kawasan Asia Tenggara, sertifikat barang antik itu ada di Singapura,” ungkapnya.

Sebelum sertifkat itu dikeluarkan, barang antik itu akan diujicoba keasliannya di laboratorium. Dari sana akan ketahuan usia barang antik tersebut dan akhirnya akan diketahui kisaran harganya.

Namun sayangnya, Sapriadi sendiri belum pernah mengurus sertifikat barang antik tersebut.

“Saya sendiri belum pernah buat sertifikat. Namun, lain cerita kalau ada pembeli yang meminta sertifikat, barulah kita usahakan untuk buat sertifikatnya. Kalau memang harganya cocok harga kenapa tidak kita lakukan. Namun itupun untuk barang antik seharga ratusan hingga milyaran rupiah saja,” paparnya.

Cucu Tjong A Fie, Fon Prawira mengungkapkan pengertian barang antik memiliki dua makna. Pertama, barang antik dikategorikan ke dalam bukti sejarah. Sedangkan yang kedua barang antik dikategorikan ke dalam pendayagunaan ekonomi.

“Contoh barang antik yang masuk ke dalam kategori pertama yakni seluruh barang antic yang terdapat di dalam rumah Tjong A Fie ini. Semuanya berasal dari 1821 hingga 1900. Usia seluruh barang antik yang ada di rumah peninggalan Tjong A Fie sama dengan usia bangunan rumah ini. Sedangkan contoh pengertian barang antik yang kedua adalah barang antik yang diperdagangkan di toko-toko,” jelasnya.

   

Sedikitnya puluhan barang antik terdapat di rumah peninggalan Tjong A Fie tersebut. Mulai dari barang-barang yang berukuran besar seperti lemari, tempat tidur, meja makan, kursi tamu, hingga barang-barang antik berukuran kecil gelas dan lainnya.

“Umumnya, barang-barang antik yang ada di dalam rumah ini berasal dari China dan Belanda. Seperti lemari besi berukuran ½ meter x 1 meter tahun 1900 merek Martens Duestinchen juga buatan Belanda,” paparnya.

Disinggung tentang apakah ada sejumlah pengunjung rumah peninggalan Tjong A Fie yang pernah menawar sejumlah barang antik di dalam rumah tersebut, Fon Prawira mengungkapkan tidak sedikit pengunjung baik yang berasal dari dalam dan luar negeri yang pernah menawar sejumlah barang antik di dalam rumah ini.

“Jangankan barang-barangnya, rumah peninggalan Tjong A Fie ini saja pernah ditawar orang. Namun masalahnya, sanggup gak dia membelinya. Soalnya, rumah dan hampir seluruh barang di dalam rumah ini sudah berusia ratusan tahun dan tergolong antik. Satu barangnya saja, seperti fosil kayu berbentuk batu ini saja bisa dihargai milyaran Rupiah,” ungkapnya.

Namun demikian, Fon Prawira mengungkapkan pihaknya tidak akan pernah menjual barang-barang peninggalan Tjong A Fie. Pasalnya, barang-barang tersebut merupakan bukti sejarah yang pernah ada di Tanah Deli.

“Bukti sejarah itu tidak boleh dirusak, tidak boleh dihilangkan dengan cara apapun, salah satunya dengan cara menjualnya. Sampai kapanpun, kami akan tetap menjaga dan melestarikan peninggalan Tjong A Fie,” pungkasnya. (Tim Media Dinas Pariwisata).

Keramah-tamahan dan senyum terbaik dalam menyambut wisatawan berharap dapat membuat anda selalu mengingat kota Medan yang kaya akan budaya.

--  Drs. Agus Suriyono --

 Kepala DISPAR kota Medan

Sosial Media

Medan Virtual