Berita Terbaru

Sumber Pertama Air PDAM untuk Masyarakat Medan

Dataran tinggi di selatan Kota Medan sejak dulu tidak saja menyimpan potensi alam yang indah untuk didatangi sebagai destinasi wisata. Mata air (umbul) yang berada di Lau Kaban, misalnya, menjadi sumber air bersih ibu kota Sumatera Utara ini sejak 1908. 
 
Permasalah air bersih di Kota Medan bisa dikatakan sudah dimulai sejak 1887. Menurut sejarawan Erond Damanik, pada saat itu, dibentuk Gemeentefonds, yakni suatu badan yang khusus bertugas untuk merencanakan dan menyiapkan segala sesuatu berkaitan dengan rencana penetapan Kampung Medan menjadi kotapraja. 
 
Kebutuhan terhadap air bersih semakin terasa sejalan dengan perkembangan pesat dan pertambahan penduduk di Medan. Sebelumnya, sumber air bersih di Medan hanya mengandalkan air sumur. Namun, cara tersebut tidak efektif lagi sejalan dengan rencana peningkatan status Medan menjadi kota. 
 
“Sungai Deli dan Babura yang membelah kampung Medan pada waktu itu tidak dapat diharapkan sebagai sumber air bersih. Hal ini karena kedua sungai tersebut selalu kotor pada musim penghujan,” kata Erond, belum lama ini. Oleh karena itu, sebagai sumber air bersih pada saat itu adalah mengandalkan sumur artesis dengan menggunakan alat mesin pompa air melalui penggunaan uap (stoombagermolen). 
 
Namun, sumur tersebut tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan air penduduk Medan saat itu. Pada 3 Februari 1903, NV de Deli Maatschappij mengambil inisiatif untuk mencari solusi air bersih di Medan. Dari penyelidikan tim ahli diketahui bahwa sumber air bersih di Medan hanya dapat diatasi dengan mengalirkannya dari dataran tinggi Karo yakni kawasan Sibolangit diantara Lau Patani dan Lau Betimus. 
 
“Pada saat ini, daerah yang dimaksud adalah Lau Kaban, Sumbul Sibolangit,” ujar Erond. Dari data yang ada, sumber air bersih ditemukan dari tiga sumber air di Lau Kaban yang telah diperiksa secara kimiawi dan bakterilogis oleh JGC Vries dari Lands Plantentium (Kebun Raya Bogor), WA Kuenen. Dia merupakan dokter dari Senembah Maatschappij Hospital dan seorang profesor biologi di Hugeschool, Munchen, Jerman. 
 
Sumber mata air (umbul) dialirkan dari Lau Kaban yang mampu menghasilkan debit air 3.000 m3 per hari dengan tekanan minimal dua atmosfer pada pipa sambungan di rumah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 130 m3 perhari diberikan gratis kepada masyarakat dan pemadam kebakaran. Adapun bentuk fasilitas kepada masyarakat adalah berupa pendirian sepuluh air mancur dan tiga pemandian umum. 
 
“Pemilihan Lau Kaban sebagai sumber umbul air adalah karena kondisi tanah vulkanis yang pada bagian atasnya adalah tanah liat dan batu pasir setebal 1,5 meter yang dikelilingi oleh pepohonan dan curah hujan yang tinggi setiap tahunnya,” kata Erond. Berdasarkan analisis kimiawi di Deli Proefstation (balai penelitian milik NV de Deli Maatschappij), kualitas air dari Lau Kaban sangat bersih dan tidak berbau dengan suhu 220 dearajat celcius. 
 
Penangkapan airnya adalah batuan. Di mana mata air muncul dan kemudian dibuka celah secara horizontal yang menyerupai nadi untuk dibersihkan sedalam 7 meter. Dari nadi tersebut dilebarkan serta diberi alas beton untuk mencegar bercampurnya air dari luar umbul. Dari nadi berupa terowongan tersebut, air dialirkan dalam bak kecil untuk mengendapkan batuan dan pasir dan seterusnya dialirkan ke bak besar untuk menghindari udara yang terbawa oleh air. 
 
Untuk ventilasi air tersebut, maka pada dindingnya diberi lubang yang dilapisi dengan kawat kasa. Untuk menjaga kesterilan (higienis) air, maka pada sumber air tersebut diberi pintu yang terbuat dari besi dan cor beton. Setelah itu, bidang miring dari sumber air ditimbun dengan tanah. Selanjutnya, untuk menjamin keamanan reservoir, maka masyarakat yang bermukim di sekitar umbul air di Lau Kaban, dipindahkan ke tempat lain. “Untuk hal ini, Kesultanan Deli berkewajiban memindahkan masyarakat di sekitar umbul air dari seluas 80 Hektar yang dihibahkan kepada perusahaan air bersih,” bebernya. 
 
Akhirnya untuk mengalirkan air ke Medan, maka dibangun pipa distribusi dengan mengikuti jalur kereta api Deli Tua. Pipa yang dipakai adalah pipa besi tuangan (cast iron pipe) yang didatangkan dari Belanda oleh Firma van den Bergen and Co. Pipa yang dipasang hingga Medan mendapati persilangan sebanyak 29 kali (aquaduct) yang terbuat dari penyangga beton. Pemasangan pipa dimulai sejak 24 Agustus 1906 yang melibatkan 60 orang pekerja yang terdiri atas 20 orang tukang dan 40 buruh harian. Selanjutnya, pemasangan pipa distribusi di Medan dimulai sejak April 1907 dan selesai pada Juli tahun yang sama. 
 
Pada Agustus 1907, pemasangan pipa ke seluruh rumah-rumah yang memesan air bersih telah tersambung dengan baik. Sebagai tempat penampungan air, maka direncanakan membangun tangki air (water toren) yang mampu menampung 1.200 m3. Menurut Staf Humas PDAM Tirtanadi, Zaman Karya, rencana pembangunan tersebut pada awalnya di Delitua. Namun dibatalkan dan dipindahkan ke Medan. Untuk rencana tersebut, NV de Deli Maatschappij memberikan tanah seluas 4.000 m2 yang terletak di Radjastraat (kini Jalan Singamangaraja) di persimpangan Jalan Pandu. 
 
“Tinggi menara air adalah 42 Meter yang reservoirnya terbuat dari besi dengan diameter 14 meter,” bebernya. Untuk mengatur tekanan air, maka pada bagian bawah menara tepatnya pada pipa saluran air dipasang alat pelepas tekanan tinggi yang dapat berfungsi jika hubungan antara penyaluran kota ditutup dari penyimpanan tinggi. Meski kini mata air Lau Kaban tak lagi bisa memenuhi kebutuhan air bersih semua warga Medan, 12 Desember 1908, sudah dicatat dalam sejarah sebagai hari pertama pengoperasian sistem air bersih di Kota Medan. 
 
Sumber : Koran Sindo.

Keramah-tamahan dan senyum terbaik dalam menyambut wisatawan berharap dapat membuat anda selalu mengingat kota Medan yang kaya akan budaya.

--  Drs. Agus Suriyono --

 Kepala DISPAR kota Medan

Sosial Media

Mobile App